Matahari memancarkan cahaya dirinya, panas terik tida terperi. Air sungai mengalir tenang, dan di situ kelibat seorang pemuda membasahkan tekak, menghilangkan dahaga.
Namun, perutnya cukup kosong, meronta untuk diisi. Sepanjang perjalanan tadi, tiada langsung dia menemui benda untuk dimakan. Namun, kuasa Allah, ketika itu terpandang dia akan epal yang dihanyutkan oleh air sungai itu.

“Alhamdulillah, rezekiku,” bisiknya, lalu bingkas mengambil dahan untuk menarik epal tersebut. “Bismillahirahmanirahim,” permulaan bagi setiap perkara, lalu epal itu dimakan dengan sopannya.
Baru sahaja dua tiga gigitan, tiba-tiba dia beristighfar. “Astaghfirullah, buah ini aku belum meminta izin dari tuannya, maka belum halal bagiku untuk memakannya.” Mengalir air mata, menyesali apa yang dilakukannya.
Segera dia berfikir. Akhirnya dia mengambil keputusan untuk mencari di mana sumber epal tersebut. Maka dia pun menyusuri sungai, hinggalah dia menemui sebuah kebun kecil, dan terdapat juga gudang di sana. Terpandanglah dia akan sebuah rumah yang cukup sederhana tetapi ceria, tanda tuannya menjaga dengan baik rumah tersebut.
Menujulah dia dengan langkah yang pantas, dengan niat yang satu, mendapat keizinan dari tuan punya epal itu. Dia yakin, epal itu datang dari kebun itu.
“Assalammualaikum.” Pemuda itu memberi salam.
“Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.” Balas satu suara.
“Siapakah kamu wahai anak muda, dan atas urusan apakah kamu datang ke sini?”, seorang lelaki memunculkan diri dari rumah tersebut.
“Nama saya Tsabit bin Ibrahim, tujuan saya ke sini ingin bertanya sesuatu. Adakah tuan pemilik kebun ini?” soal Tsabit.
“Ya, sayalah pemilik kebun tersebut.” jawab lelaki itu.
““Begini tuan, saya adalah seorang pengembara, ketika sedang dalam perjalanan, saya menemukan sungai kecil. Di situ kemudian saya temukan beberapa buah epal yang terapung. Kerana lapar yang telah begitu mendera , saya ambil dan saya makan. Saya baru sedar bahawa buah ini pasti ada yang punya sebelumnya, hingga kemudian saya mengikuti sungai tadi dan menemukan kebun dan rumah Tuan” jelasnya sambil memperlihatkan buah epal yang tinggal separuh.
“Maafkan saya, sudilah kiranya Tuan yang baik hati untuk mengikhlaskan buah epal ini untukku. Tanpa keikhlasan Tuan, niscaya buah epal ini akan menjadi barang haram yang saya makan, dan saya akan menyesalinya seumur hidup saya.” Pemuda ini kembali menyapu air mata yang menggenang.
Pemilik kebun itu adalah seorang yang alim dan soleh. Ia tahu, dalam pandangan agama tidak ada alasan untuk tidak mengizinkan seseorang makan epal yang ditemukan di pinggir sungai.
“Saya ingin mengetahui, apakah anak muda ini benar-benar seorang yang ‘alim, yang takut pada Allah kerana telah melakukan sesuatu yang ia tidak yakin apakah itu benar atau salah. Atau ia hanya seorang pembual bermuka dua, yang hanya ingin menarik perhatian?” monolog hati pemilik kebun epal tersebut, lalu memutuskan untuk menguji Tsabit.
Setelah beberapa saat pemilik kebun epal berkata “Anak muda, saya tidak boleh begitu mudah memaafkan kamu, saya punya syarat untuk itu.”
“Baiklah, untuk epal yang telah engkau makan, engkau harus membayarnya dengan bekerja di kebunku selama 3 tahun tanpa bayaran. Jadi engkau hanya akan mendapat makanan dan minuman sehari-hari sebagai upah bekerja itu. Dan untuk itu, engkau boleh menduduki gudang di sebelah itu sebagai tempat bernaungmu.” sambung lelaki itu lagi.
Awalnya Tsabit bercadang untuk membayar epal itu, tetapi pemilik kebun epal tidak mengizinkannya. Tercegat pemuda itu mendengar ucapan si orang tua. Lama ia terdiam, dan akhirnya, setelah menghela nafas sambil beristighfar berkali-kali, ia mengangguk. Tidak ada pilihan lain. Ia harus memperbaiki kesalahannya, agar dimaafkan. Tsabit segera menyetujui syarat tersebut. Maka, berkejalah dia selama tiga tahun di situ.
Setelah 3 tahun berlalu, anak muda itu kemudian menemui pemilik kebun.
“Tuan, hari ini hari terakhir saya bekerja disini. Saya telah menyelesaikan janji saya dan memenuhi permintaan tuan.”
Pemilik kebun epal sedar, bahawa anak muda ini, yang sedang berdiri di hadapannya, adalah orang yang luar biasa. Anak muda ini telah memikat hatinya dan dia tidak ingin melepaskan anak muda itu begitu sahaja.
“Tunggu dulu anak muda, masa 3 tahun sudah engkau jalani, namun saya belum dapat memaafkan. Satu lagi syarat terakhir, yakni engkau harus menikahi putri kesayanganku.
Yang perlu engkau ketahui bahawa ia tidak dapat menggerakkan tangannya, tidak mampu berjalan, tidak boleh mendengar dan tidak boleh melihat. Seandainya engkau menerimanya sebagai isteri, maka kuikhlaskan buah epal dari kebunku yang engkau makan waktu itu.” sambung lelaki tersebut.
Jujur saja, menikahi seorang wanita cacat, adalah perkara yang sukar. Syarat itu cukup berat buat Tsabit. Tapi hidup dengan mengabaikan suara hati nurani dan ketika kelak meninggal dan akan bertemu dengan Allah, tentunya lebih berat lagi.
“Ya Allah, setiap lelaki tentu mengharapkan isteri yang sempurna, secantik bidadari. Tak terbayang betapa berat semua ini.” Pilu doanya dalam hati.
“Ya, saya menyetujui syarat tuan, dengan begitu sebaiknya Tuan memaafkan saya.” akhirnya lelaki yang teguh memegang janjinya itu mengangguk. Di dalam setiap ujian, ada hikmah yang semoga dapat meningkatkan ketakwaannya.
Beberapa hari kemudian, Tsabit menikah dengan anak perempuan si pemilik kebun epal secara sederhana. Pada malam harinya, Tsabit pergi menuju kamar pengantin, di mana mempelai wanita telah menunggunya. Di sana ia melihat seorang muslimah impian yang cantik jelita, yang tersenyum padanya. Tsabit merasa takjub dan terpinga-pinga.
“Ya Allah, saya telah salah masuk kamar.” Tsabit bergegas meninggalkan kamar dan sebentar kemudian ayah wanita itu datang menghampirinya.
“Maaf, saya telah salah masuk kamar.” Tsabit mencuba menjelaskan dengan wajah tersipu malu.
“Itu bukan kamar yang salah. Ia adalah anak perempuan saya.” jawab si pemilik kebun epal yang sekarang telah menjadi mertuanya.
“Saya sudah menemuinya. Tapi ia bukanlah anak perempuan seperti yang Tuan ceritakan pada saya. Ia sama sekali tidak cacat seperti yang Tuan katakan.”
“Anakku! Anak perempuan saya lumpuh, karena ia sampai saat ini tidak pernah memasuki tempat hiburan manapun, ia buta, karena sampai sekarang tidak pernah memandang laki-laki yang tak dikenalnya, ia juga tuli, karena ia selama ini tak pernah mendengar fitnah dan hanya mematuhi Al Qur’an dan kata-kata Rasululllah S.a.w” kata mertuanya sambil tersenyum
“Alhamdulillah, selama hidup saya tidak pernah makan sesuatu atau memberikan sesuatu yang dilarang Allah pada anak saya untuk dimakan. Anak perempuan saya baik dalam segala hal. Kalian adalah pasangan yang serasi. Semoga Allah memberkati kalian dan menganugerahkan kalian anak yang soleh. Saya memberikan kebun epal ini sebagai hadiah pernikahan kalian. Sekarang, pergilah menemui isterimu.”
Setelah mendengar kata-kata itu, Tsabit segera melupakan semua kegundahan di hatinya selama ini dan pergilah ia menemui pasangan hidupnya yang berharga dan sangat dikasihinya. Berkat sebuah epal, jodohnya dengan wanita solehah, yang akhirnya mendidik anak mereka menjadi imam terkenal, yakni imam Abu Hanifah.
******************************
Satu perkara yang menjadi kemusykilan orang, adakah salah kita memakan buah yang jatuh di kawasan sempadan kita? Maksudnya, jiran tanam pokok rambutan, dahannya memanjang ke arah sempadan pagar kita. Lalu jatuhlah rambutan tu di atas tanah kita. Lalu kita memakannya.

Maka, seperti cerita di atas, hendaklah kita meminta izin dari jiran kita untuk memakan buah tersebut. Firman Allah :
Dan janganlah kamu makan (atau mengambil) harta (orang lain) di antara kamu dengan jalan salah .. (al-Baqarah: 188)
Namun syarak mengiktiraf budaya setempat, yakni jika keadaan setempat itu jiran tersebut dengan kita saling menghalalkan dan membenarkan sesama mereka, tidaklah menjadi keutamaan mengambil makanan tersebut.
Akan tetapi berasaskan kepada sifat wara’, adalah baik tidak mengambil dan memakannya kecuali telah diketahui secara pasti bahawa jiran tersebut sememangnya seorang yang baik hati atau terus sahaja meminta izin daripadanya.
Wallahualam.
SCemanoti : Kalau sungai di sini, yang hanyut pun, buah kelapa sawit, nak makan buah kelapa sawit?